“Qolbun salim adalah qolbu yang sehat yaitu qolbunya orang yang beriman. Karena, qolbunya orang kafir dan munafiq adalah qolbu yang
sakit”.
Abu Utsman An Naisaburi rohimahulloh berkata :
هُوَ القَلْبُ السَّالِمُ مِنَ الْبِدْعَةِ المُطْمَئِنُّ بِالسُّنَّةِ
“Qolbun salim adalah qolbu yang selamat dari bid`ah dan tentram di dalam sunnah”.
Definisi universal tentang Qolbun salim ialah hati yang bersih dari semua syahwat yang bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu wata'ala dan larangan-Nya,
- bersih dari semua syubhat yang bertentangan dengan wahyu Allah Subhanahu wata'ala,
- bersih dari penyembahan kepada selain Allah Subhanahu wata'ala,
- bersih dari berhukum kepada selain Rasul-Nya, kecintaannya bersih untuk Allah Subhanahu wata'ala dan berhukum kepada RasulNya; dalam takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya,
- inabah kepada-Nya,
- merendahkan diri kepada-Nya, mengutamakan keridhaanNya dalam semua kondisi, dan
- menjauh dari kemurkaan-Nya, karena itu semua adalah esensi ubudiyah yang tidak pantas diberikan kecuali kepada Allah Subhanahu wata'ala saja.
Jadi Qolbun salim yaitu hati yang selamat dari menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wata'ala di dalam hatinya apa pun alasannya. Bahkan, ia telah memurnikan ubudiahnya kepada Allah Subhanahu wata'ala; dalam keinginan, cinta, tawakal, inabah, ketundukan, khusyu’, dan berharap. Ia memurnikan amal perbuatannya karena AllahSubhanahu wata'ala.
Jika ia mencintai orang atau sesuatu, ia mencintainya karena Allah Subhanahu wata'ala. Jika ia marah, ia marah di jalan Allah Subhanahu wata'ala. Jika ia memberi sesuatu, ia memberi karena AllahSubhanahu wata'ala.
Tidak cukup itu saja, ia selamat dari tunduk dan berhukum kepada selain Rasul-Nya. Ia mengikat hatinya dengan ikatan yang kokoh untuk hanya meniru beliau saja dalam ucapan dan perbuatan; ucapan-ucapan hati yang tiada lain adalah akidah, ucapan-ucapan mulut yaitu informasi dari hati, perbuatan-perbuatan hati yaitu keinginan, cinta, benci, dan lainnya, serta perbuatan-perbuatan organ tubuh.
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam menjadi hakim dalam itu semua; dalam perkara-perkara sepele dan perkara-perkara besar. Itulah ajaran yang dibawa beliau. Ia tidak mendahului beliau dalam akidah, ucapan, dan perbuatan, seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wata'ala:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”. (QS. Al-Hujurat ayat 1)
Poros pertanyaan tersebut ialah, apakah Anda mengerjakan tindakan tersebut karena Rabbmu atau Anda mengerjakannya karena hawa nafsumu?
Pertanyaan kedua ialah tentang ittiba’ kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam dalam ubudiyahnya.
Maksudnya, apakah perbuatannya termasuk amal perbuatan yang disyariatkan Allah Subhanahu wata'ala melalui Rasul-Nya, atau amal perbuatan yang tidak Dia syariatkan dan tidak Dia ridhai?
Jadi pertanyaan pertama berkisar pada keikhlasan, dan pertanyaan kedua berkisar pada ittiba’ kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam.
Karena Allah Subhanahu wata'ala tidak menerima suatu amal apa pun kecuali dengan ikhlas kepada Allah Subhanahu wata'ala dan ittiba’ kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam.
Solusi dari pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan keikhlasan. Dan solusi dari pertanyaan kedua adalah dengan mewujudkan ittiba’ kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam.
Membersihkan hati dari segala keinginan yang bertentangan dengan keikhlasan dan membersihkan hati dari hawa nafsu yang bertentangan dengan ittiba’ kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Inilah hakikat keselamatan hati yang menjamin keselamatan dan kebahagiaan.
2. Hati yang Mati
Jenis hati kedua ini ialah kebalikan dari hati yang pertama, yaitu hati yang mati yang tidak ada kehidupan di dalamnya.
Hati seperti itu tidak mengenal Tuhannya, tidak menyembah-Nya berdasarkan perintah-Nya, tidak mencintaiNya, dan tidak ridha kepada-Nya.
Hati tersebut berdiri di antara syahwatnya dan kelezatannya, kendati di dalamnya terdapat murka Allah dan marah-Nya.
Ia tidak peduli apakah Tuhan ridha atau marah kepadanya selagi ia senang dengan syahwatnya. Ia menghamba kepada selain Allah Subhanahu wata'ala; dalam cinta, takut, berharap, ridha, marah, dan merendahkan diri.
Jika ia mencintai sesuatu atau orang, ia mencintainya karena hawa nafsunya. Jika ia marah, ia marah karena hawa nafsunya.
Jika ia memberi, ia memberi karena hawa nafsunya. Hawa nafsunya, lebih ia utamakan, dan lebih ia cintai daripada keridhaan Tuhannya.
Hawa nafsunya adalah pemimpinnya, syahwatnya adalah panglimanya. Kebodohan adalah pengemudinya, dan lalai adalah kendaraannya. Pikirannya terkonsentrasi untuk mendapatkan tujuan-tujuan dunia. Ia mabuk kepayang oleh hawa nafsu dan cinta dunia.
Ia diajak kepada Allah Subhanahu wata'ala dan Hari Akhirat dari kejauhan, tapi ia tidak memedulikan orang yang memberi nasihat, sebaliknya mengikuti setiap langkah dan keinginan setan. Dunia terkadang membuatnya benci dan terkadang membuatnya senang.
Hawa nafsu membuatnya tuli dan buta selain dari kebatilan. Keberadaannya di dunia sama seperti gambaran yang di katakan penyair tentang Laila:
“Ia musuh bagi orang yang pulang dan kedamaian bagi para penghuninya. Siapa yang dekat dengan Laila, tentu ia akan mencintai dan mendekati”.
Maka membaur dengan orang yang memiliki hati semacam ini adalah penyakit, bergaul dengannya adalah racun dan menemaninya adalah kehancuran.
Hati yang mati ini tidak mengetahui Tuhannya, tidak menyembahnya, dan bersikap masa bodoh bila mendapatkan kemenangan lantaran syahwat dan nasib keberuntungannya.
Ia tidak peduli apakah Allah Subhanahu wata'ala akan ridha ataukah akan murka terhadap perbuatannya.
3. Hati yang Sakit
Jenis hati yang ketiga, yaitu hati yang hidup tetapi mempunyai penyakit. Ia memiliki dua materi yang saling tarik-menarik.
Ketika ia memenangkan pertarungan itu, maka di dalamnya terdapat kecintaan kepada Allah, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada-Nya, itulah materi kehidupan.
Di dalamnya juga terdapat kecintaan kepada nafsu, keinginan dan usaha keras untuk mendapatkannya, dengki, takabur, bangga diri, kecintaan berkuasa dan berkuasa di bumi, itulah materi yang menghancurkan dan membinasakannya. Ia diuji oleh dua penyeru:
Yang satu menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya serta hari akhirat, sedang yang lain menyeru kepada kenikmatan sesaat.
Dan ia akan memenuhi salah satu di antara yang paling dekat pintu dan letaknya dengan dirinya. Hati jenis pertama adalah hati yang hidup, khusyu’, santun, dan sadar.
Hati jenis kedua adalah hati yang kering dan mati. Dan hati jenis ketiga adalah hati yang sakit; terkadang ia lebih dekat kepada hati yang sehat, dan terkadang ia lebih dekat kepada hati yang mati.
Allah Subhanahu wata'ala menyebutkan ketiga jenis hati di atas dalam firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ٥٢. لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ ٥٣. وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ٥٤.
“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang Telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran Itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”.(Surat Al-Hajj Ayat52- 54)
Pada ayat di atas, Allah Subhanahu wata'ala membagi hati manusia menjadi tiga macam: Dua hati terkena fitnah dan satu hati yang selamat.
Dua hati yang terkena fitnah adalah hati yang di dalamnya ada penyakit dan hati yang keras (mati), sedang hati yang selamat adalah hati orang Mukmin yang merendahkan dirinya kepada Tuhannya, dialah hati yang merasa tenang dengan-Nya, tunduk, berserah diri serta taat kepada-Nya.
Orang-orang yang diberi ilmu syariat kemudian mengimaninya, akan semakin bertambah percaya dan mengetahui bahwa yang dikatakan para rasul dan nabi itu adalah benar-benar dari Allah.
Dia, sungguh, akan selalu mengawasi problematika orang-orang Mukmin dan membimbing mereka ke jalan lurus yang akan mereka ikuti.
0 Response to "Memahami Makna Qolbu "
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar Dengan Bijak