Mulianya Pemimpin Yang Adil
Bismillâhirrahmânirrahîm. Puji dan syukur kepada Allah subhânahu wata’âla, Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Menganugerahkan pengetahuan kepada makhlukNya,
Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak akan pernah habis teladan terpancar dari diri Beliau sampai akhir masa.
Mulianya Pemimpin Yang Adil
بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Fiqih dan Hadits
Siapakah Pemimpin yang adil itu? Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan tentang pemimpin yang adil:
وأحسن ما فسر به العادل أنه الذي يتبع أمر الله بوضع كل شيء في موضعه من غير إفراط ولا تفريط
Tafsir terbaik tentang pemimpin yang adil adalah orang yang mengikuti perintah Allah dengan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya tanpa berlebihan dan menguranginya. (Fathul Bari, 2/145, 1379H. Darul Ma’rifah Beirut)
Jadi, syarat utama pemimpin adil (Al Imam Al ‘Aadil) adalah mengikuti perintah Allah ﷻ, dan perintah Allah ﷻ yang paling utama adalah iman kepadaNya, mentauhidkanNya, bukan kufur kepadaNya, dan menyembah selainNya, apalagi menista wahyuNya. Di sisi ini, maka pemimpin kafir itu tidak mungkin adil, justru Allah ﷻ menyebut mereka sebagai orang-orang zalim, sebagaimana Allah ﷻ berfirman:
وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al Baqarah: 254)
Islam Memuliakan Mereka
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ:الإِمَامُ العَادِلُ ....
Ada tujuh manusia yang akan Allah naungi dalam naunganNya di hari yang tidak ada naungan selain naunganNya, yaitu: pemimpin yang adil .... (HR. Muttafaq 'Alaih)
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Ada tiga manusia yang doanya tidak ditolak, yaitu pemimpin yang adil, orang berpuasa sampai dia berbuka, dan doa orang teraniaya. (HR. Ahmad No. 8043. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Ta'liq Musnad Ahmad No. 8043)
Oleh karena itu, di antara ajaran para salafus shalih adalah mendoakan para pemimpin agar tetap on the track, yaitu hidayah Allah, kebaikan, dan memimpin dengan keadilan. Dan, sumber keadilan yang tertinggi itu adalah Al Quran dan As Sunnah.
Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjelaskan dengan begitu apik:
يجب أن يعرف أن ولاية أمر الناس من أعظم واجبات الدين بل لا قيام للدين ولا للدنيا إلا بها . فإن بني آدم لا تتم مصلحتهم إلا بالاجتماع لحاجة بعضهم إلى بعض ، ولا بد لهم عند الاجتماع من رأس حتى قال النبي صلى الله عليه وسلم : « إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمّروا أحدهم » . رواه أبو داود ، من حديث أبي سعيد ، وأبي هريرة .
وروى الإمام أحمد في المسند عن عبد الله بن عمرو ، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « لا يحل لثلاثة يكونون بفلاة من الأرض إلا أمروا عليهم أحدهم » . فأوجب صلى الله عليه وسلم تأمير الواحد في الاجتماع القليل العارض في السفر ، تنبيها بذلك على سائر أنواع الاجتماع . ولأن الله تعالى أوجب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ، ولا يتم ذلك إلا بقوة وإمارة . وكذلك سائر ما أوجبه من الجهاد والعدل وإقامة الحج والجمع والأعياد ونصر المظلوم . وإقامة الحدود لا تتم إلا بالقوة والإمارة ؛ ولهذا روي : « إن السلطان ظل الله في الأرض » ويقال " ستون سنة من إمام جائر أصلح من ليلة واحدة بلا سلطان " . والتجربة تبين ذلك . ولهذا كان السلف - كالفضيل بن عياض وأحمد بن حنبل وغيرهما- يقولون : لو كان لنا دعوة مجابة لدعونا بها للسلطان
“Wajib diketahui, bahwa kekuasaan kepemimpinan yang mengurus urusan manusia termasuk kewajiban agama yang paling besar, bahkan agama dan dunia tidaklah tegak kecuali dengannya. Segala kemaslahatan manusia tidaklah sempurna kecuali dengan memadukan antara keduanya (agama dan kekuasaan), di mana satu sama lain saling menguatkan. Dalam perkumpulan seperti inilah diwajibkan adanya kepemimpinan, sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Jika tiga orang keluar bepergian maka hendaknya salah seorang mereka menjadi pemimpinnya.” Diriwayatkan Abu Daud dari Abu Said dan Abu Hurairah.
Ilmu Yang Tidak Bermanfaat
بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Tazkiyatun Nafs
العِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ
"Al-‘ilmu bilaa ‘amalin kasy syajari bilaa tsamarin"
"Ilmu tanpa pengamalan bagaikan pohon tak berbuah."
Penjelasan:
1. Sebaik-baiknya ilmu adalah yang diamalkan. Ilmu yang banyak tidak akan mendatangkan manfaat jika tidak terlihat dalam perbuatan, sedangkan ilmu yang sedikit akan berguna jika diamalkan dalam kehidupan sehari-hari
2.
. العلم ما نفع، ليس العلم ما حفظ
“Ilmu adalah yang bermanfaat dan bukan hanya dihafalkan” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 89).
3. Ilmu yang bermanfaat adalah yang mengantarkan seseorang mengenal dan takut kepada Rabbnya; jika semakin bertambah ilmu tetapi semakin bertambah kerusakan yang ia perbuat, maka semakin jauhlah ia dari hidayah Allah.
4. Ilmu yang bermanfaat tidak akan membuat pemiliknya sombong, ia bagaikan padi semakin banyak, maka semakin merunduk.
5. Ilmu yang bermanfaat membuat pemiliknya tidak pernah puas untuk menambah ilmu dan selalu merasa kurang.
قال ابن مسعود: إنكم في زمان كثير علماؤه قليل خطباؤه، وسيأتي بعدكم زمان قليل علماؤه كثير خطباؤه.
Ibnu Mas’ud berkata, “Kalian hidup di zaman yang terdapat banyak ulama dan sedikit yang pintar berkoar-koar. Dan nanti setelah kalian akan ditemui zaman yang sedikit ulama namun lebih banyak orang yang pintar berkoar-koar.”
6. Ilmu yang bermanfaat membuat pemiliknya semakin hati-hati berbicara, ia tidak akan berbicara jika tidak memiliki pengetahuan tentangnya.
فمن كثر علمه وقل قوله فهو الممدوح، ومن كان بالعكس فهو مذموم.
"Siapa yang lebih banyak ilmunya dan sedikit bicaranya, maka itulah yang terpuji. Dan jika sebaliknya, maka dialah yang tercela."
7. Pintar saat di sekolah belum tentu membuat ilmu seseorang bermanfaat, berapa banyak seorang yang secara akademik biasa saja namun setelah selesai dari sekolah, ia menjadi orang besar di masyarakatnya, oleh karena itu jadikanlah ilmumu bermanfaat dengan engkau menghormati dan berbakti kepada guru yang mengajarkanmu.
8. Agar ilmu bermanfaat selalu panjatkan doa yang diajarkan Rasulullah saw ;
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
[Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima”
(HR. Ibnu Majah no. 925, shahih).
Wallahu A'lam
Semoga bermanfaat Sallam bahagia Sukses Dunia Akhirat Aamiin.
0 Response to "Mulianya Pemimpin Yang Adil"
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar Dengan Bijak